Liliyana Natsir dan Puncak Pencapaiannya di Olimpiade 2016 Rio

Jakarta Liliyana Natsir pebulutangkis yang punya tekad besar, gigih, dan tak gampang menyerah. Satu di antara bukti tekad bajanya adalah misi mengejar medali emas Olimpiade. 

Liliyana memulai perjuangan menggapai mimpi terbesarnya tersebut pada 2008. Pada Olimpiade Beijing 2008 tersebut pemain yang akrab disapa Butet itu berpasangan dengan Nova Widianto. 

Perjalanan Nova/Liliyana sebenarnya cukup mulus. Setelah mengalahkan ganda Korsel, Han Sang-hoon/Hwang Yu-mi, pada babak pertama, Nova/Liliyana juga berhasil melewati adangan Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (Thailand) di perempat final.

Nova/Liliyana kemudian menyingkirkan ganda China, He Hanbin/Yu Yang di semifinal. Sayangnya, ketika tinggal selangkah lagi meraih medali prestius itu, Nova/Liliyana, harus menunda mimpi mereka.

Pada laga final, ganda campuran Indonesia itu takluk dari pasangan Korsel, Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung, dua set langsung 11-21, 17-21. 

Empat tahun berselang, Liliyana Natsir kembali berburu impian di Olimpiade London 2012. Pemain asal Manado tersebut kali ini berpasangan dengan Tontowi Ahmad. 

Bukannya menyempurnakan perjuangan empat tahun lalu, Tontowi/Liliyana malah gagal membawa pulang medali. Pada babak 4 besar, Tontowi/Liliyana harus tunduk dari Xu Chen/Ma Jin, dengan skor 23–16, 18–21, 13–21.

Pada perebutan medali perunggu, Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir kembali gagal. Mereka takluk dari pasangan Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, dengan skor 12-21 dan 12-21.

2 dari 3 halaman

Terwujud di Rio de Janeiro

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir merayakan kemenangan bersama suporter Indonesia usai meraih medali Emas Olimpiade Rio 2016 dari Cabang ganda Campuran Bulutangkis di Stadion Riocentro, Rio de Janeiro, (17/8/2016). (AFP/Ben Stansall)

Momen indah yang diimpikan Liliyana baru terwujud di Olimpiade Rio de Janeiro. Namun, jalan menuju ke sana sangat berliku. Beberapa bulan menjelang Olimpiade, grafik permainan Tontowi/Liliyana malah naik-turun. Keduanya juga sempat saling kurang percaya sama lain. 

Namun, berkat campur tangan berbagai pihak dan tekad besar serta motivasi tinggi, Tontowi/Liliyana berhasil membawa pulang medali emas untuk Indonesia. Yang terasa lebih spesial, medali emas tersebut diraih bertepatan dengan peringatan kemerdekaan ke-71 Indonesia.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, merebut medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 setelah mengalahkan ganda campuran Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, pada partai final bulutangkis, 17 Agustus 2016. Mereka menang dua gim langsung dengan skor 21-14, 21-12. 

“Saya lega, bangga, senang. Karena Indonesia biasanya tradisi emas, tapi di Olimpiade London 2012 kami berutang bawa medali. Sekarang langsung kami bayar utangnya. Senang sekali,” kata Liliyana. 

“Saya tidak bisa berkata-kata. Luar biasa rasanya. Ini saya persembahkan untuk hari kemerdekaan Republik Indonesia,” timpal Tontowi. 

Liliyana merasa punya utang karena empat tahun sebelumnya gagal membawa pulang medali dari Olimpiade London 2012. Utang tersebut telah dibayar lunas. 

Bagi Liliyana, medali emas Olimpiade merupakan momen terindah sepanjang perjalanan kariernya. “Kalau momen indah ada beberapa, tapi kalau tertinggi ya Olimpiade 2016. Semua atlet pasti memiliki cita-cita menjadi juara Olimpiade,” ujar Liliyana. 

3 dari 3 halaman

Juara Tanpa Cela

Pasangan Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (AFP/Jim Watson)

Perjalanan Tontowi/Liliyana menuju emas Olimpiade juga hampir sempurna. Tontowi/Liliyana layak diberi label juara tanpa cela. Mereka meraih medali emas tanpa kehilangan satu gim pun.

Perjalanan Tontowi/Liliyana di Olimpiade Rio dimulai dengan pertandingan melawan pasangan Australia, Robin Middleton/Leanne Choo, pada penyisihan grup C. Unggul secara kualitas, Tontowi/Liliyana menang dua gim langsung 21-7 dan 21-8.

Mereka memastikan tiket ke perempat final setelah mengalahkan pasangan Thailand, Bodin Issara/Savitree Amitrapai, pada laga kedua grup C. Mereka juga menang dua gim langsung 21-13 dan 21-19.

Meski laga ketiga tak lagi menentukan, Tontowi/Liliyana tetap ngotot saat menghadapi Chan/Goh. Ganda campuran terbaik Merah Putih tersebut tak kesulitan untuk menang 21-15 dan 21-11 atas pasangan Malaysia tersebut.

Pada babak perempat final, Tontowi/Liliyana berhadapan dengan kompatriot mereka, Praveen Jordan/Debby Susanto. Lagi-lagi, langkah juara Prancis Open 2014 itu tak terbendung. Mereka kembali menang dua gim dengan skor 21-16 dan 21-11.

Lawan berat harus dihadapi Tontowi/Liliyana pada semifinal. Mereka harus berhadapan dengan ganda campuran nomor satu dunia, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Namun, pasangan Indonesia itu mampu membuat kejutan dengan merebut tiket ke final. Ganda campuran China itu dibungkam dengan skor 21-16 dan 21-15.

Pada partai puncak, Tontowi/Liliyana kembali bertemu Chan/Goh, lawan yang mereka kalahkan pada babak penyisihan grup. Seperti yang bisa diprediksi, Tontowi/Liliyana tanpa kesulitan menang dua gim langsung 21-14 dan 21-12.